Latest News

Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Saturday, August 18, 2018

Heboh dan Dramatis, Presiden Jokowi Buka Asian Games 2018 Naik Sepeda Motor


.
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menghadiri acara pembukaan Asian Games 2018. Kedatangan Jokowi di lokasi acara Asian Games di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Sabtu (18/8/2018) malam digambarkan berlangsung secara dramatis.
.
Kehadiran RI-1 ini diawali ketika Jokowi melangkah keluar dari Istana Bogor diikuti oleh para Paspampres. Dia kemudian menaiki mobil RI-1 dan menuju SUGBK.
.
Dia sempat melewati jembatan Semanggi, Jakarta dan terjebak macet. Tak kehabisan akal, sosok yang digambarkan sebagai Jokowi itu turun dari mobil dan menggunakan sepeda motor milik Paspampres.
.
Motor yang ditungganginya bahkan melompati mobil-mobil untuk menembus kemacetan. Dia juga melewati jalanan yang sempit.
.
Paspampres lalu menyusul dan sempat terhenti di depan sekolah. Jokowi pun turun dari motornya untuk memberi jalan kepada rombongan anak sekolah yang akan menyeberang. Seorang pelajar sempat terperangah ketika menyaksikan Jokowi membuka kaca helmnya.
.
Lepas dari kemacetan, Jokowi kemudian kembali dikawal oleh rombongan Paspampres yang menaiki sepeda motor. Diceritakan, Jokowi tiba di SUGBK tepat ketika acara pembukaan akan segera dilangsungkan. Jokowi pun langsung masuk ke stadion masih dengan tunggangannya.
.
Diperlihatkan pula, sosok yang digambarkan sebagai Jokowi kemudian memarkir motornya dan kemudian masuk lift dengan pengawalan Paspampres menuju panggung upacara. Tepat ketika pintu lift terbuka, sosok asli Jokowi pun muncul di panggung utama dan mendapat sambutan meriah.
.
Jokowi langsung disambut Ketua Inasgoic Erick Thohir, Wapres Jusuf Kalla, Menpora Imam Nahrawi, serta Menko PMK Puan Maharani.

Sumber: https://www.liputan6.com/news/read/3622313/heboh-dan-dramatis-jokowi-buka-asian-games-2018-naik-sepeda-motor
Video: https://twitter.com/netmediatama/status/1030789427436564480

MANUSIA LANGKA PADA ZAMAN-NYA



Saya geli sendiri kalau ada yang mengejek Bahasa Inggris Pak Jokowi. Mereka yang mengejek itu kayak apa kalau ngomong English ya? 

Ceritanya, tahun 1997, saya magang sebagai reporter di sebuah surat kabar baru di Solo. Jurnalis-jurnalis pada masa itu rata-rata baru mengenal internet, mulai akrab sama Yahoo. Tapi seorang narasumber bikin kami ndlongop karena dia sudah terbiasa menggunakan internet. Bahkan saat kami datang mau wawancara, kadang dia lagi asyik chatting dengan buyernya di Eropa. Pakai bahasa apa menurut Anda? Bahasa prokem, atau bahasa alay seperti biasa digunakan untuk ejek-ejekan di medsos seperti sekarang?  Tentu saja pakai English. Dia yang sampeyan ejek setiap waktu termasuk gaya ngomong Inggrisnya, 1997 sudah menggunakan bahasa itu untuk menghasilkan ribuan dolar. Di setiap acara kunjungan dari luar negeri, saat menjabat walikota, dia juga pidato dengan bahasa Inggris.

Pak Jokowi waktu itu dan sekarang adalah orang yang sama. Dulu kalau datang ke kantornya, baik Asmindo atau Rakabu (pabrik mebelnya) kadang wartawan atau siapapun akan tertipu. Dia adalah Ketua Asmindo, juga bos/pemilih usaha mebel yang diekspor ke berbagai penjuru dunia. Namun dia tidak petentang-petenteng dan bicara dalam nada tinggi seperti gaya orang kaya baru. 

Dia berpakaian wajar, sama dengan yg dikenakan tukang-tukang. Tak jarang dia juga terjun langsung membantu tukang di pabrik miliknya. Ketika takdir mengantarnya ke kursi Walikota Solo, dia masih orang yg sama. Orang yg rendah hati dan tak pernah mau terlihat paling menonjol. Tiap Jumat adalah agenda rutin naik sepeda bersama para jajaran kepala dinas dan kepala kantor. Rutinitas yg dinamai dengan "mider praja" (belakangan dikenal sebagai "blusukan") ini untuk melihat langsung kondisi masyarakat di kampung-kampung, sekaligus memantau pembangunan yang berjalan. 

Solo pun berubah 180%. Dari kota yang kumuh menjadi tertata. Dari yang semrawut menjadi rapi. Solo menjadi berseri kembali. Itu pula yang mengantar Pak Jokowi menjabat Walikota untuk kedua kalinya, dengan perolehan suara di atas 90%.

Gibran, sang anak yang pulang dari studi di luar negeri mendirikan usaha katering. Namun satu pesan Pak Jokowi, Chili Pari Catering tidak boleh mengambil order di lingkungan Pemkot Surakarta, tempat bapaknya bekerja. Ini untuk menghindarkan dari KKN, mendorong clean governance. Gibran mesti pontang-panting cari orderan di luar. Saya masih ingat, staf marketing Gibran, mbak Mony, pernah menemui saya-- saat itu menjabat manajer lembaga pelatihan jurnalistik. Dia tahu  saya biasa menggelar acara-acara dengan melibatkan jasa katering.  Dia datang menawarkan kerja sama. 

Aturan untuk Gibran itu rupanya tetap berlaku saat Pak Jokowi jadi Guburnur DKI dan Presiden RI. Hal kecil ini tentu menjadi indikator dari sekian banyak indikator lain yang menunjukkan betapa hati-hatinya seorang Jokowi mengelola negeri ini. Jokowi membuat anak-anak jauh dari dunia politik. Tak juga memberi mereka kemudahan dengan memanfaatkan kekuasaan yg dimiliki. Gak ada proyek jalan tol atau mobnas buat Gibran dan adik-adiknya. Mereka dibiarkan berkembang  dengan usahanya masing-masing agar tak ada konflik kepentingan.

Sampai sekarang Jokowi tetap orang yang sama. Kalau pulang ke Solo dia makan di warung Soto Triwindu dan Ayam Mbah Karto, dan membiarkan orang yang makan di sana tetap di tempatnya. Saat mampir warung soto yang lejen itu kemarin, saya mendapat cerita dari pemilik warung bahwa staf Presiden baru memberitahu rombongan  akan mampir, beberapa menit sebelumnya. Hingga tak ada waktu menyeting lokasi dan menyediakan menu istimewa, apalagi mengosongkan warung. Semuanya dibiarkan apa adanya.

Memilih Jokowi adalah memilih orang yang merakyat, bersih dan bekerja nyata. Lebih dari itu memilih Jokowi adalah memilih orang baik.

Niken Satyawati
(copy & paste dari 'tembok' mbak Indra Harbani, berjudul asli: MEMILIH ORANG BAIK)

Thursday, June 28, 2018

Buta yang terburuk adalah buta politik




SETIAP WARGA HARUS MELEK POLITIK

Nasehat Pericles mungkin jadi akan terasa getir, “Hanya karena Anda tidak meng ambil minat dalam politik, tidak berarti politik tidak akan mengambil minat pada Anda,…"

Dan dalam praksis politik, tidak penting beda antara tidak berfikir, diam saja, atau pura-pura tak mendengar, berlagak netral dan sok filosofis. Dalam konsep one man one vote, ketidakhadiran adalah nihil.

Maka mereka yang mendiamkan, adalah mempercayai, atau setidaknya meloloskan politikus buruk lewat di depan hidung, Dan itu menyedihkan.

Dan setelahnya mereka terkejut, mereka berkuasa, tanpa persetujuan kita, dan mereka akan menentukan masa depan atau hajat hidup kita?.

Disitulah kita percaya omongan getir Will Rogers, Pelawak Politik. Bahwa politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan banyak uang.

Biaya itulah yang kemudian kita tanggung, sebagai rakyat. Kita akan terkena imbasnya, bahkan sampai pada anak-cucu...jika buruk pemimpin yg kita pilih maka 5 tahun lamanya penderitaan yg kita alami sampai menunggu pemilihan pemimpin berikutnya

Celakanya, “Salah satu hukuman karena menolak untuk berpartisipasi dalam politik," kata Plato, "adalah bahwa Anda berakhir diperintah oleh bawahan Anda.” Siapa bawahan Anda? Yaitu orang-orang yg tidak memiliki kompetensi dan tidak memiliki integritas.

Berthold Brecht (1898 – 1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, sutradara teater nasehatnya penting kita renungkan; 

"Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri."

Sunday, May 20, 2018

Budiman Sudjatmiko: Bukan Soeharto, Tapi Presiden Paling Berhasil adalah Jokowi. ini Datanya...


Politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko mengatakan, survei Indobarometer secara tidak langsung menunjukkan bahwa Joko Widodo adalah presiden yang paling berhasil memimpin Indonesia.

Diketahui, survei Indo Barometer yang dirilis Minggu (20/5/2018) menyebutkan, 32,9 persen responden memilih Soeharto sebagai presiden yang paling berhasil. Urutan kedua dan ketiga diikuti Soekarno yang dipilih 21,3 persen responden dan Joko Widodo dipilih 17,8 responden.

Adapun, posisi keempat dan kelima ditempati oleh Susilo Bambang Yudhoyono (dipilih 11,6 persen responden) dan BJ Habibie (dipilih 3,5 persen responden). Pencapaian keberhasilan Soeharto, Soekarno dengan Jokowi, lanjut Budiman, tidak bisa dibandingkan. Sebab, periode kepemimpinan ketiga presiden itu berbeda jauh. Soeharto berkuasa selama 32 tahun dan Ir Soekarno menjadi presiden selama 22 tahun.


Sementara Jokowi yang kini belum menyelesaikan satu masa periode kepemimpinannya (sekitar 4 tahun) saja sudah berada pada posisi ketiga. Dengan demikian, menurut Budiman, boleh dibilang bahwa mayoritas responden memilih Jokowi sebagai presiden yang paling berhasil. "Artinya di sini, Pak Jokowi mendapatkan posisi bagus, Jokowi lebih tinggi (dibandingkan dengan presiden pasca-reformasi)," ujar Budiman kepada wartawan ketika dijumpai di bilangan Senayan, Jakarta, Minggu (20/5/2018).

Budiman menambahkan, hal itu disebabkan oleh Jokowi yang berhasil memecahkan opini publik mengenai pembangunan yang masif. "Dulu ada anggapan, pembangunan bisa berhasil kalau pemerintahannya sentralistik atau otoriter, semua bisa jalan. Nah, Pak Jokowi bisa membuktikan bahwa pembangunan bisa berjalan, bahkan merata di era pemerintahan yang demokratis," ujar Budiman. Menurut Budiman, memang sulit melaksanakan pembangunan yang masif apabila kekuasaan tidak sentralistik. Ini berkaitan dengan banyak hal, salah satu yang paling menentukan adalah politik anggaran.

Apalagi, di era sekarang, situasi otonomi daerah sudah berkembang pesat di mana wewenang pemerintah pusat tidak lagi semutlak era Orde Baru. Namun nyatanya Jokowi mampu menembus batas-batas itu dan melaksanakan pembangunan secara merata. "Jauh lebih susah loh membangun di pemerintahan demokratis ketimbang membangun di era sentralistis. Karena dulu ada faktor stabilitas yang lebih terjamin.

Nah, sekarang kan dinamis. Gubernur, bupati, wali kota saja bisa berbeda partai politik dengan presiden," ujar Budiman. "Di sinilah mungkin Pak Jokowi mendapat posisi yang bagus, karena dia bisa memadukan dua hal yang dikira banyak orang mustahil digabungkan, yaitu kebebasan dan pembangunan infrastruktur," lanjut dia.


https://nasional.kompas.com/read/2018/05/20/17050481/budiman-sudjatmiko-presiden-paling-berhasil-adalah-jokowi-bukan-soeharto.
Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Farid Assifa

Wednesday, August 24, 2016

Mengajukan TUNTUTAN dan Aspirasi BERNUANSA SARA dan Di Publikasikan Kepada PUBLIK ..


Untuk MENIKAPI Hari Hari Belakangan ini ,
Adanya " SEGELINTIR ORANG "
yang Mengatasnamakan RT - RW Jakarta dan
Mengajukan TUNTUTAN dan Aspirasi BERNUANSA SARA
dan Di Publikasikan Kepada PUBLIK ..
INILAH KONFIRMASI BANTAHAN sekaligus PERNYATAN RESMI
Dari KETUA Ikatan RT / RW Jakarta Baru ( Irjaba )
Yang Berdiri sejak desember 2012 ..
sebagaimana Yang disampaikan Langsung
Oleh KETUANYA Bapak Ridwan ...
KAMI Organisasi Ikatan RT - RW Jakarta Baru atau Irjaba
Yang Didirikan 5 Desember 2012 MENYATAKAN BAHWA :
1. KAMI Selaku Ketua RT - Ketua RW beserta Pengurus
TIDAK PERNAH Merasa DIRENDAHKAN dengan Kebijakan QLUE
Yang BANYAK BERMANFAAT Buat Masyarakat .
2 MENOLAK Cara Cara yang Dilakukan Oknum RT - RW
Yang Mengumpulkan KTP untuk MENOLAK
Gubernur BASUKI CAHYA PURNAMA ,
Melalui Cara Cara PEMAKSAAN Terhadap WARGA .!
3. KAMI Menyatakan MENGUTUK KERAS " Aksi Aksi "
yang Bernuansa SARA Berkaitan dengan PILKADA dan seterusnya
4. SELAKU Ketua RT dan RW , Kami BERKOMITMEN ,
Akan TETAP MENGAWAL dan MENDUKUNG Program Kebijakan
Pembangunan Oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ..
dibawah Kepemimpinan Gubernur Basuki Cahya Purnama !
5. KAMI MENOLAK Pernyataan Pihak Pihak
Yang MENGATASNAMAKAN RT - RW Jakrta
yang Tidak Mendukung Program Pemprov DKI
6. MENDESAK DPRD untuk SEGERA
Untuk Menyelesaikan dan Mengesahkan RANPERDA
Tentang Rukun Tetangga dan Rukun Warga
Jakarta 11 Agustus 2016
Tertanda - KETUA Ikatan RT- RW Jakarta Baru .

Source : FB 

Thursday, November 20, 2014

Profesor JE Sahetapy: Masalah Hukum yang Ditinggalkan SBY seperti 'Piring Bau Amis'


Profesor JE Sahetapy (foto: Ist)

Profesor JE Sahetapy: Masalah Hukum yang Ditinggalkan SBY seperti 'Piring Bau Amis'


Ketua Komisi Hukum Nasional (KHN) Profesor JE Sahetapy mengatakan permasalahan hukum yang ditinggalkan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih menumpuk. Ia pun mengibaratkan bahwa masalah hukum tersebut berupa piring yang kotor yang penuh bau amis.

"Kalau (masalah hukum) diibaratkan sebuah piring, piring yang ditinggalkan oleh SBY itu bau amis," kata Sahetapy dalam diskusi bertema 'Pekerjaan Rumah Sektor Hukum Pemerintahan Jokowi-JK' di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/11/2014).
Sahetapy menuturkan, piring kotor itulah yang menjadi tantangan pemerintahan Jokowi-JK. Menurutnya, pemerintahan Jokowi-JK harus mampu membersihkan 'piring bau amis' tersebut.

"Kalau memang Jokowi bisa bikin piring itu bersih dari bau amis selama lima tahun itu luar biasa. Tapi sepertinya tidak mungkin," tuturnya.
Sahetapy mencontohkan permasalahan hukum yang masih ada seperti masalah yang ada di Kementerian Hukum dan HAM yaitu lembaga pemasyarakatan. Selain itu, masalah korupsi juga masih menjadi permasalahan besar.

"KPK satu-satunya alat yang mampu menyelesaikan masalah piring kotor di Indonesia," ujarnya. (Muhammad Zulfikar/Tribunnews.com/ng)

Source : 
 http://baranews.co/web/read/25976/profesor.je.sahetapy.masalah.hukum.yang.ditinggalkan.sby.seperti.piring.bau.amis#.VG6wAzSUeE4


"Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!" (Ir. Sukarno)



"Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!" (Ir. Sukarno)

Hari ini, pemuda-pemudi hebat mulai bermunculan dari berbagai latar agama dan etnis nusantara. Beberapa tahun lalu tidak dikenal, tidak saling kenal. Jokowi dari Surakarta, Ahok Manggar, Samad Makassar, Ridwan Bandung, Ganjar Karanganyar, Risma Kediri, semua berkarya sendiri-sendiri hanya berbekal nyali dan nurani.

Tuhan baik, mereka terus bertambah: Susi dari Pangandaran, Hanif Brebes, Jonan Singapura, Anies Kuningan, Andrinof Padang, Basri Bandung; bak jamur musim hujan, mencengangkan! Meski para PECUNDANG terus mengusiknya.

Kebaikan akan selalu menjalar kemana-mana, hingga mengguncang dunia.
Pasti akan lebih dahsyat lagi jika kita semua andil bersama. 


Source : FB Danan Juventini Jaya?
Danan Juventini Jaya

Monday, November 3, 2014

Munculnya Pimpinan Tandingan Bukti Ada Krisis Legitimasi Di DPR



Munculnya Pimpinan Tandingan Bukti Ada Krisis Legitimasi Di DPR

Wednesday, October 8, 2014

KMP Kuasai DPR/MPR, Negara Kehilangan 25 Miliar Dollar AS

KMP Kuasai DPR/MPR, Negara Kehilangan 25 Miliar Dollar AS
Ketua MA, Hatta Ali (kiri) melantik pimpinan MPR RI yang baru di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (8/10/2014). Paket dengan ketua Zulkifli Hasan yang diusung Koalisi Merah Putih akhirnya mengalahkan paket dengan ketua Oesman Sapta yang diusung Koalisi Indonesia Hebat melalui proses voting yang digelar anggota MPR. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

JAKARTA - Dari data Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (Apemindo), negara mengalami kehilangan 25 miliar dollar Amerika Serikat dari sektor pertambangan mineral.
Alasannya, investor asing angkat kaki karena takut melihat gejolak politik di DPR dan MPR yang dikuasai Koalisi Merah Putih (KMP). "Kehilangan lebih dari Rp25 miliar, itu yang berdampak langsung," ujar Ketua Apemindo Poltak Sitanggangdi Jakarta, Rabu (8/10/2014).
Poltak menjelaskan angka tersebut sangat besar, karena mengambil investasi di pertambangan nikel. Sedangkan untuk satu industri, pertambangan nikel mempunyai nilai investasi 3 sampai 5 miliar dollar AS. "Industri nikel paling besar investasinya di mineral," ungkap Poltak.
Menurut Poltak, industri mineral saat ini sudah terancam hancur. Pasalnya lembaga keuangan di dalam negeri belum mendukung adanya kredit untuk pengusaha tambang khususnya mineral.
"Lembaga keuangan nasional belum mendukung, jadi sektor ini 99 persen masih didukung lembaga keuangan asing. Biaya smelter PT Antam saja bank HSBC," papar Poltak.

Source : http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/10/08/kmp-kuasai-dprmpr-negara-kehilangan-25-miliar-dollar-as

Sunday, September 28, 2014

UU Pilkada Bukan Lagi Tarung KMP vs Jokowi, Tapi KMP vs Rakyat

UU Pilkada Bukan Lagi Tarung KMP vs Jokowi, Tapi KMP vs Rakyat


Jakarta - Perbedaan pendapat saat sidang paripurna DPR RI terkait RUU Pilkada terjadi antara partai-partai Koalisi Merah Putih (KMP) dan koalisi pendukung Jokowi. Namun, pertarungan sebenarnya di sidang itu terjadi antara KMP dan rakyat. 

"Sebetulnya yang terjadi bukan persaingan antara KMP dan (Koalisi) Indonesia Hebat. Tanggal 26 itu adalah kekalahan rakyat Indonesia terhadap KMP. Jadi KMP bisa disebut melawan kehendak rakyat Indonesia," ujar Ray Rangkuti. 

Hal ini disampaikan Ray dalam diskusi bertajuk "Ditemukan: Dalang Pilkada Tak Langsung dari Gerakan Dekrit Rakyat Indonesia" di Kafe Tong Tji, Menteng Huis, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Minggu (28/9/2014). Ray juga merasa miris ketika mendengar Prabowo Subianto dan Amien Rais bersujud syukur atas kekalahan demokrasi rakyat Indonesia ini. 

Menurutnya, RUU Pilkada ini telah mengembalikan sistem pilkada ke masa Orde Baru. "Pak Prabowo, Amien Rais, Ical, yang Anda kalahkan bukan Megawati. Tapi 80 persen rakyat Indonesia," tegasnya. 

Tak hanya itu, Ray mengaku curiga dengan niatan Partai Demokrat (PD) mengajukan gugatan ke MK. Sebab, melihat tak ada aksi nyata yang dilakukan partai berlambang mercy itu dalam rangka menunjukkan sikap penolakan terhadap pilkada tak langsung. Karenanya, niatan ini menjadi tak masuk akal dan menyebutnya sebagai drama baru Partai Demokrat. 

"Saya khawatir poin-poin yang akan diajukan Partai Demokrat atau Pak SBY adalah poin-poin yang bisa juga dijadikan MK untuk tidak mengabulkan permohonan. Jadi tuntutan poin-poin SBY dibuat selemah mungkin sehingga MK memutuskan DPR sah," kata Ray. 

"Kalau mendukung dengan tulus mestinya medukung pilkada langsungnya, baru disusul 10 poin. Ini kebalikannya. Demokrat dari awal mendahulukan cabang lalu membuang batangnya. Tidak ada niat baik dan tulus," ujarnya.

Sourc : detiknews.com



Saturday, September 27, 2014

Jokowi Siapkan Perlawanan terhadap UU Pilkada

Jokowi--MI/Ramdani

Jokowi Siapkan Perlawanan terhadap UU Pilkada


Jakarta: Joko Widodo menyerukan masyarakat untuk mencatat dan mengingat partai mana saja yang mendukung pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD.

"Rakyat harus mencatat, partai-partai mana saja yang merebut hak-hak politik rakyat. Masyarakat harus catat," kata Jokowi usai menghadiri acara pembukaan Rakornas PKPI di Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, (26/9/2014).

Ini merupakan bentuk kekecewan Jokowi terhadap putusan Sidang Paripurna di DPR semalam. Kendati demikian, Jokowi telah menyiapkan ancang-ancang untuk melakukan perlawanan di pemerintahan mendatang.

"Tentunya nanti ada langkah-langkah selanjutnya, tapi nanti, nanti," jawab dia singkat.

Jokowi meyakini bahwa pejabat daerah hasil pemilihan DPRD akan lebih korup ketimbang dipilih langsung oleh rakyat. "Saya pastikan yang memilih (kepala daerah) melalui dewan lebih korup," tutur politikus PDI Perjuangan itu.

Sebelumnya UU Pilkada disahkan melalui proses voting di Sidang Paripurna DPR, dimana 135 anggota dewan mendukung sistem pilkada langsung, sedangkan 226 anggota fraksi partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih memilih sistem pilkada melalui DPRD.

Source : http://news.metrotvnews.com/read/2014/09/26/297095/jokowi-siapkan-perlawanan-terhadap-uu-pilkada

Nudirman: Saya Pilih Rakyat Ketimbang Partai Golkar

Nudirman Munir (kanan)--Antara/Yudhi Mahatma

Nudirman: Saya Pilih Rakyat Ketimbang Partai Golkar


Jakarta: Politikus senior Partai Golongan Karya Nudirman Munir memastikan dirinya bersama 10 kader Golkar, siap dipecat dari keanggotaan Partai Golkar karena mendukung opsi pilkada langsung dalam Sidang Paripurna DPR, Jumat, 26 September.

Nudirman yang awalnya ditugaskan sebagai corong partai untuk menolak RUU Pilkada, mengaku berubah sikap mendukung pilkada langsung oleh rakyat setelah hati nuraninya mengatakan jika pemilu tidak langsung, sama dengan merampok hak suara rakyat dan membawa demokrasi Indonesia kemasa lalu.

"Saya lebih memilih rakyat ketimbang Partai Golkar, DPP (Golkar) seharusnya ikut menolak jika mau sesuai dengan marwahnya , suara Golkar suara rakyat," ujar Nudirman kepada Metro Tv, di Jakarta, Sabtu (27/9/2014).  
 
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar ini memastikan tekadnya sudah bulat untuk mendukung pilkada langsung oleh rakyat, meski DPP Golkar sudah mengultimatum seluruh kadernya agar mendukung pilkada melalui DPRD.
 
Dia mengaku tahu dan sadar akan konsekuensi yang akan dijatuhkan oleh partai berlambang pohon beringin itu kepadanya, yaitu pemecatan secara tidak hormat sebagai kader partai.
 
Dia menilai Golkar hanya mampu memecat statusya sebagai kader partai, tapi tidak dapat memecat hati nuraninya sebagai orang Golkar yang memegang teguh prinsip dasar partai, yaitu suara Golkar suara rakyat.
 
Menurutnya Golkar telah dipengaruhi keinginan segelintir elite Golkar untuk mendukung pilkada tidak langsung, padahal pilkada tidak langsung jelas-jelas bertentangan dengan semangat atau prinsip dasar Partai Golkar yaitu suara Golkar suara rakyat.

Source : http://news.metrotvnews.com/

Wednesday, September 10, 2014

�Bom Waktu� dan Tantangan Buat Pemerintah Baru Jokowi-JK

Satrio-arismunandar-

�Bom Waktu� dan Tantangan Buat Pemerintah Baru Jokowi-JK


Dijadikannya Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Jero Wacik, sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu, 3 September 2014, cukup mengejutkan dari segi timing atau waktu penetapan. Hal ini karena terjadi pada hanya dua bulan sebelum berakhirnya masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Namun, penetapan tersangka terhadap Jero Wacik itu bukan sama sekali tidak terduga. Hal itu jelas jika kita mengikuti langkah KPK sebelumnya. KPK telah mengembangkan penyidikan kasus suap yang menimpa Rudi Rubiandini, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Penetapan Jero Wacik sebagai tersangka adalah hasil dari pengembangan kasus KPK tersebut.
Penetapan status tersangka KPK atas Jero Wacik, yang juga Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat, partai yang didirikan dan dipimpin SBY, menjadi pukulan terakhir bagi pemerintahan SBY dan Partai Demokrat. Inilah �kenang-kenangan terakhir� yang mungkin diingat publik dari pemerintahan SBY, meski SBY dengan susah payah telah berusaha menghindarkan �kenangan buruk� terhadap pemerintahannya.
Demi �citra baik,� SBY memilih tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) menjelang berakhirnya masa jabatannya sebagai Presiden RI. SBY tidak ingin dikenang sebagai Presiden yang menaikkan harga BBM, kebijakan yang tidak populer dan biasanya menimbulkan aksi protes serta perdebatan pro-kontra sengit, di penghujung masa jabatannya.
Padahal SBY dan tim ekonominya tahu betul, berdasarkan tren konsumsi BBM bersubsidi yang bisa diprediksi cukup akurat, pada Oktober 2014 kuota subsidi BBM akan jebol. Tak ada lagi alokasi anggaran untuk subsidi BBM. Artinya, subsidi BBM untuk konsumsi November-Desember 2014 adalah nol rupiah. Jika anggaran negara mau diselamatkan, rakyat akan dipaksa untuk mengkonsumsi BBM non-subsidi mulai akhir Oktober 2014. Ada risiko keresahan sosial, polemik, aksi protes, atau politisasi oleh sejumlah kalangan di DPR.  
Tetapi pasca Oktober 2014 itu sudah bukan lagi era SBY, tetapi era pemerintahan baru di bawah Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla. Jika SBY menaikkan harga BBM sekarang, beban fiskal buat pemerintahan baru di bawah Jokowi-JK akan berkurang. Jokowi-JK butuh ruang fiskal untuk menerapkan program-program ekonomi dan janji-janji masa kampanye yang pro-rakyat. Namun jika SBY menunda-nunda kenaikan harga BBM dengan berbagai alasan, beban fiskal akan meningkat dan tidak menyelesaikan masalah jebolnya kuota subsidi BBM.
Ini hanya menunda-nunda persoalan sehingga terakumulasi semakin besar. Pemerintah Jokowi-JK  yang mulai bertugas di penghujung Oktober akan dipaksa oleh situasi untuk menaikkan harga BBM, pada level persentase yang jauh lebih tinggi, dibandingkan jika pemerintah SBY sudah menaikkan atau �mencicil kenaikan� harga BBM lebih dulu sekarang.
Sebagaimana orang berutang, menunda cicilan utang tidak akan menuntaskan masalah, karena di ujung-ujungnya justru harus membayar cicilan pada tingkatan yang lebih besar. Itulah sebabnya sejumlah pengamat mengatakan, SBY meninggalkan �bom waktu� permasalahan subsidi BBM pada pemerintahan baru Jokowi-JK. SBY lebih mementingkan citra populer pemerintahannya ketimbang mengambil tindakan yang benar, dan bekerjasama dengan pemerintahan baru mengatasi masalah subsidi BBM.
Saya tidak sepakat dengan tudingan bahwa Jokowi-JK ingin mempertahankan �citra populer� dan hanya mau �terima bersih,� dengan mendesak pemerintah SBY agar menaikkan harga BBM atau mengurangi subsidi BBM sekarang. 
Pertama, harus diingat bahwa bahkan pada masa kampanye pemilihan presiden, Jokowi secara terbuka dan tegas mengatakan, ia akan mengurangi bahkan mengakhiri subsidi BBM di masa pemerintahannya. Artinya, sejak awal Jokowi tidak menjual popularitas murahan dengan memberi �angin surga� buat rakyat.
Pemerintah Jokowi-JK tidak akan mempertahankan harga BBM yang ada sekarang selama-lamanya. Itu jelas tidak rasional, tidak mungkin diterapkan karena sangat membebani anggaran negara, dan tidak mendidik buat rakyat. Oleh karena itu, jika pemerintahan Jokowi akan menaikkan harga BBM, hal itu bukan hal baru atau luar biasa, tapi sekadar mewujudkan janji masa kampanye.
Kedua, jika �popularitas� dan �pencitraan� menjadi problem yang dikhawatirkan pihak SBY, pihak Jokowi sebetulnya bisa menawarkan solusi. Misalnya, kenaikan harga BBM itu dideklarasikan sebagai hasil keputusan dan kesepakatan bersama antara Presiden SBY dan Presiden terpilih 2014-2019 Jokowi. Dengan demikian, kedua pihak �berbagi beban politik� bersama, demi suatu kebijakan yang oleh keduanya dianggap tepat untuk kebaikan rakyat di masa depan. Sayangnya, opsi bersama ini juga tidak dipilih oleh SBY.
Oleh karena itu, problem dan tantangan yang harus dihadapi pemerintahan baru Jokowi-JK, akibat kelambanan atau keengganan SBY memikul risiko dan bertindak tegas soal urgensi pengurangan subsidi BBM, menjadi semakin berat. 
Dijadikannya Menteri ESDN Jero Wacik sebagai tersangka pelaku korupsi oleh KPK tentu semakin membuat SBY enggan mengurangi subsidi BBM, mengingat citra pemerintahannya yang sudah terlanjur karut marut oleh skandal korupsi beberapa menterinya.
Di sisi Jokowi sendiri, kini sebagai seorang Presiden terpilih dan pemimpin nasional, ia dituntut untuk membuktikan kepemimpinannya, menghadapi krisis ysang sulit justru di awal pemerintahannya. Tidak ada waktu luang bagi Jokowi-JK untuk bersantai.
Tantangan seorang pemimpin bukanlah pada penanganan isu-isu dengan implikasi ringan yang disukai konstituen. Namun, seorang pemimpin sejati ditantang untuk berani mengambil tindakan penuh risiko yang diyakininya benar, demi kepentingan rakyat banyak, meskipun ia sadar bahwa tindakan itu tidak populer, bahkan di mata konstituennya sendiri.
Dalam hal kenaikan harga BBM, rakyat Indonesia sebetulnya bukannya tidak bisa diajak �berbagi beban� (baca: menderita). Sejarah membuktikan bahkan sejak perang kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Indonesia bersedia menanggung derita, dengan ikut melindungi para pejuang kemerdekaan dari pengejaran pasukan penjajah Belanda. Rakyat bahu-membahu memberikan pasokan logistik untuk para laskar gerilya, yang kemudian menjadi cikal bakal pembentukan Tentara Nasional Indonesia.
Rakyat bersedia berbagi beban demi kemaslahatan bangsa dan negara, asalkan mereka melihat ada semangat kebersamaan dan keadilan dalam �berbagi beban� itu. Mereka mau menanggung susah, asalkan pemerintah dan para pejabatnya juga menunjukkan sikap prihatin yang sama, seperti berperilaku hemat, mengurangi pengeluaran yang tidak urgen, tidak tampil bermewah-mewah, melakukan efisiensi menyeluruh, memberantas korupsi dan penyimpangan lain, dan seterusnya.
Oleh karena itu, rencana menaikkan harga BBM itu harus diimbangi dengan keseriusan dalam memberantas �mafia migas� dan berbagai perilaku korupsi yang merajalela di bisnis migas. Hal-hal semacam ini sudah dipahami oleh Jokowi. Penetapan tersangka korupsi oleh KPK pada Jero Wacik adalah satu contoh, yang harus ditindaklanjuti dengan tindakan tegas lain dalam pemberantasan korupsi.
Program-program kompensasi buat rakyat kecil, yang nafkah hidupnya akan terganggu akibat kenaikan harga BBM itu, juga harus disusun secara jelas, terarah, terukur, dan transparan.  Jika hal-hal ini dilakukan secara serius dan konsisten oleh pemerintah baru Jokowi-JK, rakyat akan menerima kenaikan harga BBM sebagai realitas yang memang perlu dan tidak terhindarkan.
Kenaikan harga BBM adalah sesuatu yang diakui memang kurang menyenangkan, tetapi harus ditanggung bersama demi kebaikan bersama. Tanpa pendekatan �kebersamaan dengan rakyat� semacam ini, kenaikan harga BBM hanya akan menjadi kebijakan tidak populer, dan bahan mainan para politisi yang mencari popularitas murahan. Dan yang terburuk, ia juga tidak memberi nilai lebih buat kepentingan rakyat dan buat kepentingan nasional.
Dalam dua bulan terakhir ini, kita tidak bisa berharap lebih banyak pada rezim SBY. SBY sudah memutuskan untuk �main aman� sampai berakhirnya masa jabatan, Oktober mendatang. Kini harapan bertumpu pada Jokowi-JK. Semoga Jokowi-JK sanggup memikul beban tanggung jawab itu!
(Satrio ArismunandarDoktor Ilmu Pengetahuan Budaya dari UI dan kandidat Komisioner KPK)
Source : http://www.nefosnews.com/post/opini/bom-waktu-dan-tantangan-buat-pemerintah-baru-jokowi-jk

Tuesday, September 9, 2014

Koalisi untuk Kepentingan Siapa?

Koalisi untuk Kepentingan Siapa?

ANDI IRAWAN (DOSEN UNIVERSITAS BENGKULU)

Koalisi untuk Kepentingan Siapa?

Koalisi. Tema ini merupakan isu sentral dalam banyak pembicaraan publik selepas pemilu legislatif 9 April yang lalu. Berkaitan dengan pembicaraan tentang koalisi ini, menurut saya, hal ini tidak boleh dibiarkan hanya menjadi kepentingan elite. Koalisi harus ditempatkan pada wacana publik dan untuk kepentingan publik.
Artinya, dalam konteks ini, publik harus mencermati dan menilai bagaimana para elite itu bermanuver dalam pembentukan koalisi politik mereka, yang dilakukan untuk menentukan pasangan kandidat pemimpin tertinggi eksekutif di negara ini. Kalangan masyarakat madani perlu mengawal agar tujuan pembentukan koalisi tetap dalam lingkup public interest, bukan elite interest. Saya kira penting bagi media cetak ataupun elektronik, para aktivis media sosial, intelektual, mahasiswa, dan para pengamat untuk bersikap kritis terhadap pembentukan koalisi dari sejumlah kekuatan politik. Diduga kuat mereka akan tampil dalam pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Jadi, yang perlu dipertanyakan, apakah hal itu berorientasi publik atau tidak?
Isu utama koalisi tidak boleh dibiarkan berkisar tentang siapa yang harus dipasangkan dengan calon presiden tertentu. Tidak pula boleh dibiarkan hal ini hanya berbicara tentang partai apa bergabung kepada partai apa, lalu, berapa poros yang akan hadir dalam konstestasi calon wakil presiden dan calon presiden 9 Juli nanti. Sebab, ketika hanya berbicara masalah itu, tidak akan ada titik temunya dengan kepentingan publik.
Kita harus mengupayakan bahwa koalisi yang terbentuk akan memberi ekspektasi positif tentang Indonesia selama 2014-2019. Sebagai contoh, apa kontribusi koalisi yang terbentuk terhadap masalah kesejahteraan rakyat, khususnya dalam aspek kesenjangan ekonomi yang semakin meningkat dan penurunan angka kemiskinan yang subtansial? Perlu disadari, garis kemiskinan yang kita pakai sebagai dasar perhitungan angka kemiskinan tidak mencerminkan kesepakatan pandangan dunia tentang kemiskinan yang sesungguhnya.
Garis kemiskinan yang disepakati oleh dunia internasional adalah penghasilan US$ 2 per hari per kapita, sedangkan kita menggunakan angka sekitar US$ 1 per hari per kapita. Parameter internasional harusnya berani ditetapkan sebagai garis kemiskinan nasional guna menentukan angka kemiskinan. Dengan demikian, penurunan angka kemiskinan yang terjadi benar-benar keberhasilan subtansial yang diakui dunia, bukan keberhasilan yang bersifat pencitraan. Pemerintah selama ini bias pada pertumbuhan ekonomi dan abai terhadap masalah keadilan ekonomi.
Kita memang telah termasuk dalam kelompok negara dengan pendapatan menengah-atas dengan pendapatan per kapita sebesar US$ 3.542,9. Tapi hal itu menjadi tidak bermakna ketika kita memahami bahwa yang menikmati kue pembangunan Indonesia itu sebenarnya tidak proporsional. Ada 10 persen penduduk, jika merujuk pada Indikator Pembangunan Dunia dari Bank Dunia pada 2013, yang memiliki 65,4 persen dari aset total nasional. Dalam hal ini, Indonesia berada di peringkat 17 negara yang kesenjangan ekonominya paling tinggi dari 150 negara yang disurvei.
Tidak mengherankan jika kemudian angka indeks Gini juga semakin melebar dari 0,329 pada 2002 menjadi 0,413 pada 2011, apalagi kalau dibandingkan pada era Orde Baru yang sebesar 0,3. Hal itu menunjukkan kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan miskin di era Reformasi ini semakin melebar.
Ketimpangan (kesenjangan) ekonomi, ditambah dengan semakin sulitnya akses rakyat miskin terhadap pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan, adalah bahaya laten yang bukan saja bisa menimbulkan goncangan sosial. Seperti yang dikemukakan Stiglitz, dalam bukunya, The Price of Inequality (2012), hal ini menjadi sesuatu yang bisa menghancurkan demokrasi itu sendiri. Pemerintah di masa mendatang harus berani mengambil sikap politik yang impelementatif dalam mengatasi masalah kesenjangan ekonomi yang semakin melebar dan menurunkan angka kemiskinan yang subtansial.
Untuk itu, DPR dan pemerintah periode 2014�2019 (hasil koalisi yang terbentuk) harus berani menjadikan angka penurunan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi menjadi paremeter penting pembangunan, yakni dengan cara memasukkan parameter-parameter tersebut menjadi asumsi dasar dan target penting dalam APBN. Belum ada satu pemerintah pun pada era Reformasi ini yang berani menjadikan penurunan kesenjangan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan signifikan sebagai kemauan politik (political will) dalam APBN yang mereka susun.
Masyarakat madani perlu mengedukasi para pemilih untuk memaksa para politikus yang bermanuver tentang koalisi calon presiden agar tidak sekadar berbicara tentang siapa mendukung siapa dan mendapat apa, tapi bagaimana koalisi itu memberi ekspektasi tentang Indonesia yang lebih adil, makmur, dan sejahtera. Bahkan, sebaliknya, kekuatan-kekuatan politik yang hanya mempertontonkan koalisi yang sarat dengan kepentingan elite layak dihukum. Caranya adalah dengan tidak memilih kekuatan koalisi tersebut dalam pemilihan presiden 9 Juli nanti.

Source : http://pemilu.tempo.co/read/analisa/32/Koalisi-untuk-Kepentingan-Siapa

Recent Post