Latest News

Showing posts with label Internasional. Show all posts
Showing posts with label Internasional. Show all posts

Tuesday, August 30, 2016

Ini Pesan Menyakitkan Netizen Indonesia pada Xanana Gusmao


pembelakejujuran.blogspot.com ~ Berita sengketa perbatasan di celah Timor antara Timor Leste dan Australia menarik perhatian netizen Indonesia, Selasa (30/8/2016).

Melalui kolom komentar pada berita berjudul: Timor Leste Merasa Dicurangi Australia, Xanana:
Kami Tak Minta Bantuan, Kami Minta Hak Kami, ratusan pesan netter Indonesia muncul untuk
Xanana Gusmao.

Rata-rata netter menyalahkan keputusan Xanana untuk memisahkan diri dari NKRI, beberapa ada yang menyarankan untuk kembali gabung ke Indonesia namun banyak yang memberitahu kalau "Tak ada makan siang gratis!"

Kalimat tersebut merupakan sebuah ungkapan yang disampaikan netizen Indonesia menilai kasus tersebut.

Netizen mengatakan konflik perbatasan atau tudingan pencaplokan kawasan Timor Leste oleh Australia merupakan konsekuensi.

Sebelumnya Timor Leste berhasil memisahkan diri dari Indonesia juga tak lepas dari bantuan Australia.

Maka menurut netter Australia meminta imbalan, maka banyak yang menggunakan ungkapan tak ada makan siang gratis.

"Nah baru nyaho sekarang bgmn australia yg sebenarnya.. Pokoknya gak ada makan siang gratis!!!" Tulis akun Arinta Arin.

Senada akun dengan nama Sandy Mahesa berpendapat,"Nggak ada roti gratis om...dulu di bantu skrg ya minta kembalian dung."

Akun Wildan Azm dan Surianto Anto menulis,"Hahaha...mana ada makan siang yg gratis...."
Sedangkan netter ini mengutip filosofi Jawa.

"Diambil hikmahnya saja..... kadang kadang tidak semua yg menolong itu tulus... ada juga yg istilah jawanya "nulung menthung"..... (menolong malah memukul)." Tulis akun Pak'Lek Zhuge.

Meski demikian ada juga netizen yang mengingatkan tentang perjuangan Indonesia untuk mempertahankan Timor Leste saat itu.

"Jujur dalam hati kami warga Indonesia masih menyayangi kalian Timor Leste .. karena perjuangan pahlawan kami untuk mempertahankan Timor timur dulu bermandikan air mata dan dan darah," tulis akun dengan nama Muhajar Esvada.

Pemerintah Timor Leste dan Australia maju ke meja perundingan terkait sengketa batas wilayah laut antara kedua negara, di celah Timor.

Perundingan itu digelar di Den Haag, Belanda, Senin (29/8/2016).

Seperti diberitakan Associated Press  dikutip dari Kompas.com, selama ini kedua negara terlilit sengketa celah Timor yang diketahui memiliki kandungan sumber daya minyak dan gas.

Mantan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao mendapat kesempatan pertama berbicara di hadapan panel yang terdiri dari lima orang ahli.

"Kami tidak datang ke Den Haag untuk meminta bantuan atau pun perlakuan khusus," tegas Xanana.

"Kami datang untuk menuntut hak kami berdasarkan hukum internasional," kata dia.

Pergulatan panjang terkait sengketa celah Timor telah mendatangkan kekhawatiran akan rusaknya hubungan kedua negara.

Setelah Xanana, pihak Australia kemudian memberikan presentasi. 

Pemeritah di Canbera menyebut panel di Den Haag tak memiliki yurisdiksi untuk menetapkan batas wilayah kedua negara. (*)

Australia tetap berpegang untuk menegakkan perjanjian antara kedua negara. 

Sumber: Tribunnews.com

Monday, August 29, 2016

Xanana: Kami Tak Minta Bantuan, Kami Minta Hak Kami

pembelakejujuran.blogspot.com ~ Pemerintah Timor Leste dan Australia maju ke meja perundingan terkait sengketa batas wilayah laut antara kedua negara, di celah Timor.

Perundingan itu digelar di Den Haag, Belanda, Senin (29/8/2016).

Seperti diberitakan Associated Press, selama ini kedua negara terlilit sengketa celah Timor yang diketahui memiliki kandungan sumber daya minyak dan gas.

Mantan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao mendapat kesempatan pertama berbicara di hadapan panel yang terdiri dari lima orang ahli.

"Kami tidak datang ke Den Haag untuk meminta bantuan atau pun perlakuan khusus," tegas Xanana.

"Kami datang untuk menuntut hak kami berdasarkan hukum internasional," kata dia.

Pergulatan panjang terkait sengketa celah Timor telah mendatangkan kekhawatiran akan rusaknya hubungan kedua negara.

Setelah Xanana, pihak Australia kemudian memberikan presentasi.

Pemeritah di Canbera menyebut panel di Den Haag tak memiliki yurisdiksi untuk menetapkan batas wilayah kedua negara.

Australia tetap berpegang untuk menegakkan perjanjian antara kedua negara.


Sumber: kompas.com

Sunday, August 28, 2016

Mengejutkan! ISIS doakan Trump jadi presiden Amerika, Ini Alasannya

pembelakejujuran.blogspot.com ~ Para perekrut kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mendoakan kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump agar memenangkan pemilihan umum dan menjadi presiden Negeri Paman Sam.

Menurut laporan majalah Foreign Affairs yang diperoleh dari pesan berantai dalam aplikasi Telegram, diketahui para anggota kelompok militan itu lebih suka Trump jadi presiden AS. Alasannya kalau Trump jadi presiden maka mereka akan lebih mudah merekrut orang untuk bergabung menjadi jihadis.

"Saya berdoa kepada Allah agar menyerahkan Amerika kepada Trump. Keuntungan yang diperoleh jika Trump berhasil ke Gedung Putih adalah prioritas bagi para jihadis apa pun alasannya," demikian bunyi salah satu komentar anggota ISIS dalam aplikasi pesan berantai itu.

Majalah Foreign Affairs mengatakan mereka sudah mewawancarai 12 anggota ISIS dan mengatakan kelompok militan itu lebih suka Donald Trump ketimbang Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat.

Saat ditanya mengapa mereka berharap Trump jadi presiden, anggota militan itu mengatakan ada tiga alasan.

Pertama, dengan janji Trump yang akan menghabisi para jihadis dan membombardir Suriah maka itu akan membuat dunia berpikir Islam sedang berperang melawan negara Barat.

Akar keyakinan dari ISIS itu adalah hadits nabi yang mengatakan perang akhir zaman antara Islam dan Barat akan terjadi di dekat kota Dabiq, sebelah utara Suriah.

Menurut keyakinan mereka, negara Barat akan kalah dalam perang itu dan kekhalifahan Islam akan berdiri menguasai dunia.

Alasan kedua, para perekrut ISIS memandang, pendapat Trump yang ingin memaksa seluruh muslim agar datanya terdaftar dan mengawasi seluruh masjid akan membuat perekrutan menjadi lebih mudah dan lebih gampang meradikalisasi calon korban.

Ketiga, mereka meyakini Trump adalah tipe pemimpin irasional dan meledak-ledak yang akan membuat dia lebih mudah diprovokasi dan dengan demikian akan melemahkan AS.

Masih menurut mereka, meski mendukung Perang Irak pada 2003, Hillary Clinton adalah orang yang lebih sulit untuk dimanfaatkan dalam menyebarkan propaganda.

Ini memang bukan kali pertama para militan memanfaatkan Trump, pada Januari lalu kelompok Asy-Syabaab di Somalia memakai pria 70 tahun itu dalam cuplikan video propaganda mereka.


Sumber: merdeka.com

Recent Post